Bromo at glance

Location : Java, Indonesia
Type : Stratovolcano
Last Eruption : 2004
Elevation : 2,329 metres

Mount Bromo also Gunung Bromo, located in the Tengger Caldera, is one of the most popular tourist attractions in East Java, Indonesia. It is an active volcano and part of the Tengger massif, and even though at 2329 meters it is not the highest peak of the massif, it is the most well known.

Legend

According to a local folk tale, at the end of the 15th century princess Roro Anteng from the Majapahit Empire started a separate principality together with her husband Joko Seger. They named it Tengger by the last syllables of their names. The principality did prosper, but the ruling couple failed to conceive children. In their despair they climbed Mount Bromo to pray to the gods, who granted them help, but requested the last child to be sacrificed to the gods. They had 24 children, and when the 25th and last child Kesuma was born Roro Anteng refused to do the sacrifice as promised. The gods then threatened with fire and brimstone, until she finally did the sacrifice. After the child was thrown into the crater, the voice of the child ordered the local people to perform an annual ceremony on the volcano, which is still held today.
Bromo isn't the highest mountain in Java — that honor goes to nearby Mount Semeru at 3,676m — but it's probably the most famous one. Bromo is in fact only one of many peaks inside the massive Tengger Caldera, but it's easily recognized as the entire top has been blown off and the crater inside constantly belches white sulphurous smoke. The inside of the caldera, aptly dubbed the Laut Pasir (Sea of Sand) is coated with fine volcanic sand and the overall effect is unsettlingly unearthly, especially when compared to the lush green valleys all around the caldera.

The major access point is Cemoro Lawang at the northeast edge, but there are also trails from Tosari (northwest) and Ngadas (west). The village of Ngadisari, on the road from Probolinggo about 5.5 km before Cemoro Lawang, marks the entrance to the national park. Both Cemoro Lawang and Ngadisari are rather picturesque, with brightly-painted houses and flower beds outside.

The nearest major airport is in Surabaya, three hours away by car (and more by bus).
The nearest larger town is Probolinggo, on the north coast of Java. It's about one hour from Probolinggo to Ngadisari and another half hour all the way to Cemoro Lawang, and it's (just) possible to visit on a day trip, although most visitors prefer to climb overnight and see the sunrise.

To go there, take a 'Damai' shuttle bus from the Juanda International Airport in Surabaya, to go to the Bungasih bus terminal. Then, take an express Patas air-conditioned bus for a 2-3 hours ride from Surabaya to Probolinggo.

Source : http://www.lombokinternet.com/index.htm

naik - naik ke puncak gunung (hari 4)

24.11.08

Mustinya dari kemaren udah bisa masuk hotel, tapi berhubung dipaksa nginep disitu akhirnya baru senin pagi kita check ini di hotel. Mas nunggu di kamar, aku turun di ballroom ngikutin seminar. Malemnya kita jalan ke tunjungan mall yang segede gambreng. Engga beli apa-apa sih, cuman cuci mata. Abis makan malam di mall, langsung balik ke hotel ngelewatin toko emas yang gedungnya wow keren. Besok paginya kita pulang ke semarang pake sriwijaya.

naik - naik ke puncak gunung (hari 3)

23.11.08

Jam 3.30 tet, alarm dari 2 HP udah teriak-teriak. Kita bangun sambil kedinginan, secara selimut yang disediain kurang tebel, padahal kita uda pake kaos kaki. Nyampe di luar hotel ternyata uda rame banget, penghuni hotel pada ngumpul di depan resto sambil nunggu diberangkatin dan mereka semua pada make jeep. Ternyata cuman kita b2 yang milih pake ojek. Jam 4.15 kita baru berangkat ke penanjakan bwat liat sunrise.

Perjalanan dimulai di loket pos wisata Bromo, seperti biasa harga tiket yang tertera gak sama dengan uang yang dibayar. Trus jalan mulai turun terus menuju lautan pasir. Sampe di kaki bukit kita mulai nyebrang lautan pasir, untungnya lagi musim hujan jadi pasir yang beterbangan gak terlalu banyak tapi dinginnya tetep aja... Momen kayak gini yang bikin nyesel milih ojek daripada jeep. Di tengah padang pasir ada aja beberapa anak muda yang pasang tenda sambil nginep disitu. Bromo juga kelihatan jelas dan bisa dibilang kabutnya tipis banget. Sampe di ujung lautan pasir, perjalanan mulai naik ke lokasi view point penanjakan, tempat yang sempurna bwat liat matahari terbit. Nah, perjalanan naik ke view point itu seru banget. Berhubung kita pake ojek jadi lebih lancar jaya, malahan di tengah-tengah perjalanan ada jeep yang mogok. Ternyata pilihan kita pake ojek gak salah... Sayang banget sekarang itu bukan waktu yang bagus bwat liat matahari terbit. Bulan yang paling sempurna itu Agustus, hampir dipastiin setiap hari sunrisenya jelas dan gak tertutup kabut.

Setelah 1 jam kita nunggu matahari terbit tapi gak nongol-nongol, kita turun terus sempet berhenti di beberapa tempat bwat foto”. Tujuan selanjutnya kita berhenti di pura, trus naik kuda ke kaki gunung bromo baru abis itu jalan kaki naik 215 anak tangga. Sampe di atas, kita poto-poto sambil istirahat, abis rugi naiknya kan capeeeeek banget, masa langsung turun. Yang seru di Bromo, ada ojek gendong !! iya, ojek gendong naik tangga ke Bromo trus turun lagi. Tapi khusus bwat anak kecil, dan kayaknya 1 paket sama ojek kuda.

Puas foto-foto kita turun trus ngelanjutin ke bukit teletubies. Sebenernya ini cuma padang savana biasa, tapi kontur tanahnya berbukit-bukit mirip setting teletubies, makanya lebih dikenal bukit teletubies. Waktu perjalanan balik ke hotel sempet juga ditunjukin lokasi syuting pasir berbisik. Menurut info dari mas ojek, kalo musim kemarau motor engga berani lewat padang pasir, bakalan selip sepanjang jalan. Ini aja motorku uda beberapa kali mo jatuh gara” roda belakang kejebak pasir.

Nyampe di hotel, kita langsung sarapan, mandi trus check out. Transportasi bromo – probolinggo sama susahnya seperti probolinggo – bromo. Intinya kalo penumpang engga berjubel engga bakal berangkat. Gara-gara kita engga pesen duluan, alhasil kita gak dapet tempat. Angkot yang ada masih kosong melompong, dan kita nunggu 15 menitan. Berdasar pengalaman kemaren, akhirnya kita nego ke supir bwat bayar 150 rb tapi langsung berangkat.

Dari terminal probolinggo, kita langsung nail bis ke surabaya yang paling cepet berangkat. Biarpun ekonomi, kita tetep naik aja. Toh cuman 2 jam perjalanan, jadi gak terlalu pengaruh juga. Malah lebih enak pake ekonomi, secara kita abis kedinginan di bromo jadi klo ketemu yang anget lumayanlah...

Di terminal Purabaya atau yang lebih terkenal Bungurasih Surabaya, kita jalan dulu ke luar terminal trus naik taksi ke rumah mbak Ita di daerah Pabean asri. Ternyata kita dapet supir taksi baru, jadi sempet nanya-nanya mulu di sepanjang jalan, biar udah dpandu online sama empunya rumah. Kelar kangen-kangenan ma makan malam kita langsung bobo, soalnya blom ketemu mas Ray yang kebetulan lagi turun kapal.

Expenditure (per person)
tiket bromo – probolinggo 150.000 idr
tiket probolinggo – surabaya 14.000 idr

naik - naik ke puncak gunung (hari 2)

22.11.08

Keuntungan dari telatnya bis semalem adalah kita nyampe Probolinggo pas matahari udah terang benderang. Untungnya lagi kita satu’nya penumpang dari Semarang tujuan Bromo, dan para awak bus itu jadi sumber informasi plus guide dadakan. Jadi begitu mo nyampe terminal kita diminta turun di depan terminal, trus ditunjukin angkot yang ke bromo.

Meski probolinggo pagi itu gak dingin, tapi dinginnya ac bis masi berasa banget, jadi kita mutusin mampir ke warung dulu bwat sekedar minum teh anget sama numpang pipis. Sedikit oleh-oleh dari dinding kamar mandi di warung makan depan terminal Bayu Angga Probolinggo.


Dari hasil interview sama supir angkot bromo, satu kali perjalanan probolinggo – bromo butuh solar 150.000 (per liternya 5.500) trus setorannya 90.000, makanya kita maklum banget klo mereka nunggu sampe penumpangnya engga cuman full tapi berjubel. Kapasitas mobil elf 11 orang, waktu itu diisi hampir 16 orang, untungnya kita penumpang pertama dan dapet kursi di depan.


Sepanjang perjalanan kita cari informasi tentang harga hotel di sekitaran bromo, akhirnya berdasar modal gogling sama rekomen dari mas supir kita mutusin untuk nginep di hotel cemara indah. Biarpun termasuk bangunan lama lokasinya bersebelahan langsung sama lautan pasir, apalagi ada tempat nongkrong yang nyaman. Kalaupun kita gak sreg sama hotel ini, mas supir mau nganter ke hotel mana aja sampe kita sreg, maklum mereka dapet komisi dari hotel klo kita nginep disitu.

Untuk harga 200 ribu fasilitas yang ditawarin tempat tidur double, kamar mandi dalam, water heater, sarapan, yang gak ada cuma TV. Malah bagusan gitu, jadi malem kita bisa istirahat total, gak kegoda nonton film. Waktu check in kita langsung pesen transport bwat bsk pagi. Kalo pake sharing jeep 100rb/orang, ojek 75rb/orang tapi rutenya cuma hotel – penanjakan – pura – hotel. Padahal kita pengen ke padang savana ”bukit teletubies”, akhirnya mas Bagio nyaranin pake ojek aja. Secara kita cuman berdua aja, klo pesen jeep abis 450rb. Kelar urusan check in kita jalan kaki di seputaran hotel sambil cari warung bwat makan siang. trus nongkrong di depan resto hotel.

Abis maghrib pengennya sih jalan-jalan lagi tapi kog ya dingin banget ya... Padahal udah masuk musim ujan, jadi anginnya gak bakal sedingin musim kemarau. Alhasil kita numpang liat tv di lobi sambil ngobrolin rencana jalan besok pagi. Kelar makan malam, jam 8 kita langsung masuk kamar trus bobo, persiapan bwat bsk subuh.

Expenditure (per person)
elf kecil probolingggo – bromo 25.000 idr
hotel cemara indah 200.000 idr
Ojek penanjakan – pura – padang savana 150.000 idr

naik - naik ke puncak gunung (hari 1)

Seminar regional EU-APE di Surabaya hari Senin 24 Nov, pesawat Semarang – Surabaya cuma 1x sehari tiap jam 10 pagi. Asumsi awal berangkat dari Semarang minggu pagi trus nganggur sampe Senin pagi, karna mas mau nemenin berarti berangkat sabtu pagi jadi ada 2 hari bwat muterin surabaya. Tapi mas males klo cuma keliling dari mall ke mall, alhasil mas punya ide bwat weekend di bromo aja. Yipii !!! Secara beberapa bulan yang lalu kita beli jaket di BABE bandung, bwat modal klo dapet rejeki jalan” ke negara bersuhu minus. Nih dia rekapnya...

21.11.08
Berangkat dari terminal Terboyo Semarang jam 22.00, molor 2 jam dari jadwal seharusnya, bis mulai ngebut menuju Probolinggo, tapi walhasil baru sampe Sayung Demak kira-kira ½ jam perjalanan bis berhenti lagi 2 jam gara-gara selang solar pecah. Malah ada 2 penumpang yang mustinya turun di Kudus, nekat numpang truk yang lewat. Aku sih mending bobo aja, biar si mas yang ngerumpi sama penumpang lain yang udah pada mulai ngegerundel.

Expenditure (per person)
tiket semarang – probolinggo 95.000 idr

konsul hasil hsg

13.11.08

Hasil HSG yang normal ini:

Yang tengah itu rahim, trus ada saluran tuba yang ujungnya itu ovarium alias pabrik telur. warna putih itu didapat dari cairan kontras.

Kalo hasil HSG'ku : saluran tuba kiri non paten, saluran tuba kanan hidrosalfik

Yang dimaksud non paten itu mampet, kalo hidrosalfix sendiri penggelembungan karena mampet. Analogi dari dsog'ku : ada 2 selang ke ovarium, yang kiri mampet dari pangkalnya jadi agak susah nyembuhinnya karena kita gak tau yang mampet itu cuma pangkal atau sepanjang saluran. Kalo selang kanan mampet juga tapi di ujung (deket ovarium), prosentase lancar lebih tinggi.

Dokter Fajar ngerekomendasiin untuk terapi hidrotubasi atau terapi tiup. Sebenernya diminta langsung besok pagi tapi kayanya belom siap deh... Akhirnya dokter ngasih rujukan ke RS. Tlogorejo unutuk bulan depan.

hsg

12.11.08

Gagal lagi… bulan ini mens, jadi loncat ke tahap selanjutnya pemeriksaan HSG. H +1 mens aku langsung bikin janji ke bagian radiology dan dibikinin jadwal rontgen tanggal 12 november. Jadwalnya sih jam 5 sore tapi aku diminta hadir ½ jam lebih cepat, soalnya mau dkasih obat penahan sakit yang dimasukin lewat a***.

Pas jam 5, dokter radiolognya dateng, kita berdua dkasih briefing dikit tahapan prosesnya terus mas disuruh nunggu di luar, aku mulai baring di meja kaca. Foto pertama bwat data awal gak ada masalah sama sekali. Begitu yang kedua dan selanjutnya, sebelum jepret dimasukin cairan yang bisa bikin warna hasil rontgen, sakitnya lumayan juga... mules kaya mau mens. Waktu prosesnya sih paling cuma 15 menitan, trus diminta nunggu hasil fotonya.

Dari diagnosa awal, kayanya ada penyumbatan saluran. Soalnya pak dokter berasa berat masukin obatnya, malahan foto terakhir diulang lagi sambil dikasih tekanan yang lebih kuat lagi. Kalo gak salah sih pas saluran kanan deh...

Setelah 30 menitan nunggu, kesimpulannya :
- kedua saluran non paten
- saluran kanan hidrosalfix

lemes juga denger hasilnya, akhirnya sebelum pulang daftar konsultasi dulu bwat besok sore.